Banyak negara telah berkomitmen mencapai net zero emission pada tahun 2050. Namun, pertanyaannya: apakah dunia benar-benar siap?
Kebijakan zero carbon berarti semua sektor—energi, transportasi, industri, dan pertanian—harus bertransformasi total.
Beberapa negara Eropa memimpin dengan investasi besar pada energi terbarukan dan kendaraan listrik.
Namun, negara berkembang menghadapi dilema. Mereka masih bergantung pada batu bara dan minyak untuk pertumbuhan ekonomi.
Lobi industri fosil juga memperlambat transisi energi di banyak negara.
Meski begitu, tekanan global semakin kuat. Investor kini mulai meninggalkan perusahaan yang tidak ramah lingkungan.
Kesimpulannya, kebijakan zero carbon adalah keniscayaan, tapi transisinya akan penuh konflik kepentingan. Dunia perlu kolaborasi nyata, bukan sekadar janji.

