Laut Cina Selatan (LCS) terus menjadi titik nyala geopolitik utama di Asia. Klaim teritorial yang tumpang tindih antara Tiongkok dan beberapa negara ASEAN, ditambah dengan kehadiran militer Amerika Serikat, menciptakan lingkungan yang tidak stabil. Dampak dari ketegangan ini sangat luas, mencakup keamanan jalur pelayaran vital dan eksploitasi sumber daya alam.
Secara ekonomi, LCS adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, dilewati oleh triliunan dolar barang dagangan setiap tahun. Setiap potensi konflik di kawasan ini dapat mengganggu rantai pasokan global secara drastis, menyebabkan lonjakan harga energi dan barang manufaktur. Perusahaan energi juga berhati-hati dalam melakukan eksplorasi di tengah ketidakpastian politik.
Di ranah militer, peningkatan aktivitas pembangunan pangkalan dan patroli maritim oleh Tiongkok dan AS telah meningkatkan risiko salah perhitungan. Negara-negara ASEAN kini memperkuat kemampuan pertahanan maritim mereka, seringkali melalui kerja sama bilateral dengan kekuatan global, meskipun mereka harus berhati-hati agar tidak terseret ke dalam persaingan kekuatan besar.
Stabilitas di LCS sangat bergantung pada diplomasi yang efektif dan kepatuhan terhadap hukum internasional. Upaya regional untuk menyusun Code of Conduct yang mengikat harus didorong sebagai langkah penting untuk mencegah konflik dan memastikan kebebasan navigasi, yang merupakan kepentingan bersama komunitas global.
Intisari: Ketegangan di Laut Cina Selatan (LCS) memiliki dampak besar pada jalur pelayaran global (ekonomi) dan meningkatkan risiko militer akibat klaim teritorial; Solusinya bergantung pada diplomasi, Code of Conduct yang mengikat, dan kepatuhan terhadap hukum internasional.

