Bisnis di Asia menghadapi gelombang serangan ransomware yang meningkat dan semakin canggih, menjadikannya ancaman keamanan siber terbesar di kawasan ini. Kelompok kejahatan siber kini menargetkan perusahaan dari sektor manufaktur, keuangan, hingga utilitas, menuntut tebusan dalam jumlah besar dan mengganggu operasi bisnis vital.
Peningkatan serangan ini disebabkan oleh dua faktor: pertama, Asia mengalami percepatan digitalisasi yang cepat tanpa mengimbangi peningkatan investasi keamanan siber; kedua, banyak perusahaan di Asia masih memiliki sistem warisan (legacy systems) yang rentan terhadap eksploitasi.
Dampak ransomware tidak hanya berupa kerugian finansial dari tebusan, tetapi juga kerusakan reputasi dan gangguan operasional yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Regulator di beberapa negara telah mulai mewajibkan pelaporan insiden siber untuk meningkatkan transparansi dan mendorong perusahaan memperkuat pertahanan mereka.
Untuk memitigasi risiko, perusahaan Asia didorong untuk mengadopsi praktik keamanan siber yang proaktif, termasuk pembaruan perangkat lunak reguler, pelatihan kesadaran siber bagi karyawan, dan investasi pada solusi cadangan data yang terisolasi. Kerja sama lintas batas dalam berbagi informasi ancaman juga penting.
Bisnis Asia menjadi target utama serangan ransomware yang canggih, disebabkan oleh akselerasi digitalisasi tanpa diimbangi investasi keamanan siber yang memadai, menuntut perusahaan untuk memperkuat pertahanan proaktif dan berbagi informasi ancaman.

