Mobil otonom kini bukan lagi sekadar eksperimen. Google lewat Waymo, Tesla, hingga Baidu di Tiongkok sudah menguji ribuan kendaraan tanpa sopir di jalan umum.
Keunggulannya jelas: mobil otonom bisa mengurangi kecelakaan akibat human error, mengoptimalkan lalu lintas, dan memberi mobilitas bagi penyandang disabilitas.
Namun, masalah hukum jadi tantangan besar. Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kecelakaan? Produsen mobil, pengembang software, atau penumpang?
Selain itu, ada persoalan etika. Dalam situasi darurat, apakah mobil otonom memilih menyelamatkan penumpang atau pejalan kaki?
Meski teknologi semakin matang, kepercayaan masyarakat masih terbagi. Sebagian antusias, sebagian lagi justru takut.
Kesimpulannya, mobil otonom adalah masa depan transportasi, tapi butuh regulasi dan penerimaan sosial yang kuat untuk benar-benar diadopsi.

