Generasi muda di Asia kini berada di garis depan gerakan perubahan iklim, menunjukkan tingkat kepedulian dan aktivisme yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Peningkatan kesadaran ini dipicu oleh dampak nyata bencana alam ekstrem yang semakin sering melanda kawasan ini, mulai dari banjir parah, kekeringan yang berkepanjangan, hingga gelombang panas yang mematikan. Akses informasi yang mudah melalui media sosial juga memungkinkan pertukaran data ilmiah dan pengalaman pribadi mengenai krisis iklim, memperkuat keyakinan akan urgensi tindakan.
Para pemuda tidak hanya berdemonstrasi, tetapi juga menuntut perubahan kebijakan yang konkret dari pemerintah dan korporasi. Mereka menggunakan daya beli mereka untuk mendukung merek yang berkelanjutan dan memboikot praktik yang merusak lingkungan. Di banyak negara, mulai muncul gerakan akar rumput yang fokus pada solusi lokal, seperti pertanian berkelanjutan, pengelolaan sampah yang lebih baik, dan promosi energi terbarukan di tingkat komunitas.
Pendidikan lingkungan hidup dan advokasi dari tokoh publik juga memainkan peran penting dalam membentuk pandangan mereka. Mereka melihat perubahan iklim bukan hanya sebagai isu lingkungan, tetapi sebagai krisis sosial, ekonomi, dan keadilan. Tuntutan mereka seringkali terwujud dalam petisi dan aksi langsung yang bertujuan mendesak percepatan transisi energi.
Keterlibatan aktif ini diharapkan dapat menekan pemerintah untuk menepati janji komitmen iklim Paris dan meningkatkan ambisi pengurangan emisi, menjamin masa depan yang lebih hijau bagi kawasan yang sangat rentan ini. Suara mereka kini menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan politik.
Generasi muda Asia meningkatkan aktivisme iklim mereka, didorong oleh dampak bencana ekstrem di kawasan dan akses digital, menuntut kebijakan yang konkret dari pihak berwenang serta mengadopsi solusi berkelanjutan di tingkat komunitas.

